Senin, 21 November 2011

MAKALAH PERKEMBANGAN MORAL DAN PROSES PEMBELAJARAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses perkembangan individu:

1. Faktor-faktor dalam diri individu sendiri meliputi faktor-faktor endogen terdiri komponen hereditas (keturunan) dan faktor konstitusi.

2. Faktor-faktor berasal dari luar individu (faktor eksogen) terdiri lingkungan keluarga. Lingkungan sosial, lingkungan geografis.

Nah dalam makalah ini penulis akan membahas tentang perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap. Dalam perkembangan remaja juga mengenal Nilai, Moral, dan Sikap yang merupakan tiga aspek yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan remaja.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Apakah makna dari nilai, moral, dan sikap?

2. Bagaimanakah hubungan antara nilai, moral, dan sikap?

3. Bagaimanakah karakteristik antara nilai, moral, dan sikap?

4. Apakah faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai, moral, sikap, dan subyek didik?

BAB II

PEMBAHASAN

PERKEMBANGAN NILAI, MORAL, DAN SIKAP

A. Makna Nilai, Moral, dan Sikap

Ada tiga konsep yang masing-masing mempuyai makna, pengaruh, dan konsekuensi yang besar terhadap perkembangan perilaku individu, termasuk juga perilaku remaja.

1. Nilai

Dalam kamus bahasa Indonesia, nilai adalah harga, angka kepandaian. Menurut Spranger, nilai diartikan sebagai suatu tatanan yang dijadikan panduan oleh individu untuk menimbang dan memilih alternatif keputusan dalam situasi sosial tertentu. Dalam perspektif Spranger, kepribadian manusia terbentuk dan berakar pada tatanan nilai-nilai dan kesejahteraan. Meskipun menempatkan konteks sosial sebagai dimensi nilai dalam kepribadian manusia, tetapi spranger tetap mengakui kekuatan individual yang dikenal dengan istilah “ roh subjektif” (subjective spirit) dan kekuatan nilai-nilai budaya merupakan “roh objektif” (objevtive spirit). Roh objektif akan berkembang manakala didukung oleh roh subjektif, sebaliknya roh subjektif terbentuk dan berkembang dengan berpedoman kepada roh objektif yang diposisikan sebagai cita-cita yang harus dicapai.

Nilai merupakan sesuatu yang memungkinkan individu atau kelompok sosial membuat keputusan mengenai apa yang dibutuhkan atau sebagai suatu yang ingin dicapai. Secara dinamis, nilai dipelajari dari produk sosial dan secara perlahan diinternalisasikan oleh individu serta diterima sebagai milik bersama dengan kelompoknya. Nilai merupakan standar konseptual yang relatif stabil dan emplisit membimbing individu dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai serta aktivitas dalam rangka memenuhi kebutuhan psikologisnya.

Spranger menggolongkan nilai itu kedalam enam jenis, yaitu:

a. nilai teori atau nilai keilmuan (I)

b. nilai ekonomi (E)

c. nilai sosial atau nilai solidaritas (Sd)

d. nilai agama (A)

e. nilai seni (S)

f. nilai politik atau nilai kuasa (K)

2. Moral

Istilah moral berasal dari kata Latin Mores yang artinya tata cara dalam kehidupan, adat istiadat, atau kebiasaan. Maksud moral adalah sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia mana yang baik dan wajar. Moral merupakan kaidah norma dan pranata yang mengatur perilaku individu dalam kehidupannya dengan kelompok sosial dan masyarakat. Moral merupakan standar baik-buruk yang ditentukan bagi individu sebagai anggota sosial. Moralitas merupakan aspek kepribadian yang diperlukan seseorang dalam kaitannya dengan kehidupan sosial secara harmonis, adil, dan seimbang. Perilaku moral diperlukan demi terwujudnya kehidupan yang damai penuh keteraturan, ketertiban, dan keharmonisan.

Perubahan pokok dalam moralitas selama masa remaja terdiri dari mengganti konsep-konsep moral khusus dengan konsep-konsep moral tentang benar dan salah yang bersifat umum, membangun kode moral berdasarkan pada prinsip-prinsip moral individual, dan mengendalikan perilaku melalui perkembangan hati nurani.

Tokoh yang paling terkenal dalam kaitannya dengan pengkajian perkembangan perkembangan moral adalah Lawrence E. Kohlbert (1995). Melalui desertasinya yang sangat monumental yang berjudul The Development of Modes of Moral Thinking and Choice in the Years 10 to 16. Berdasarkan penelitiannya itu, Kohlbert (1995) menarik sejumlah kesimpulan sebagai berikut:

a. penilaian dan perbuatan moral pada intinya bersifat rasional.

b.Terdapat sejumlah tahap pertimbangan moral yang sesuai dengan pandangan formal harus diuraikan dan yang biasanya digunakan remaja untuk mempertanggungjawabkan perbuatan moralnya.

c. Membenarkan gagasan Jean Piaget bahwa pada masa remaja sekitar umur 16 tahun telah mencapai tahap tertinggi dalam proses pertimbangan moral.

Ada tiga tugas pokok remaja dalam mencapai moralitas remaja dewasa, yaitu:

a. Mengganti konsep moral khusus dengan konsep moral umum.

b. Merumuskan konsep moral yang baru dikembangkan ke dalam kode moral sebagai kodeprilaku.

c. Melakukan pengendalian terhadap perilaku sendiri.

Tahap-tahap perkembangan moral yang sangat dikenal diseluruh dunia adalah yang dikemukakan oleh Lawrence E. Kohlbert (1995), yaitu sebagai berikut:

a. Tingkat Prakonvensional Tingkat prakonvensional adalah aturan-aturan dan ungkapan-ungkapan moral masih ditafsirkan oleh individu/anak berdasarkan akibat fisik yang akan diterimanya baik berupa sesuatu yang menyakitkan atau kenikmatan.

Tingkat prakonvensional memiliki dua tahap, yaitu:

Tahap 1: Orientasi hukuman dan kepatuhan

Pada tahap ini, akibat-akibat fisik pada perubahan menentukan baik buruknya tanpa menghiraukan arti dan nilai manusiawi dari akibat tersebut. Anak hanya semata-mata menghidari hukuman dan tunduk pada kekuasaan tanpa mempersoalkannya.

Tahap 2: Orientasi relativis-instrumental

Pada tahap ini, perbuatan dianggap benar adalah perbuatan yang merupakan cara atau alat untuk memuaskan kebutuhannya sendiri dan kadang-kadang juga kebutuhan orang lain. Hubungan antarmanusia diipandang seperti huubungan di pasar yang berorientasi pada untung-rugi.

b. Tingkat Konvensional

Tingkat konvensional atau konvensional awal adalah aturan-aturan dan ungkapan-ungkapan moral dipatuhi atas dasar menuruti harapan keluarga, kelompok, atau masyarakat.

Tingkat konvensional memiliki dua tahap, yaitu:

Tahap 3: Orientasi kesepakatan antara pribadi atau desebut orientasi “Anak Manis”

Pada tahap ini, perilaku yang dipandang baik adalah yang menyenangkan dan membantu orang lain serta yang disetujui oleh mereka.

Tahap 4: Orientasi hukum dan ketertiban

Pada tahap ini, terdapat orientasi terhadap otoritas, aturan yang tetap, penjagaan tata tertib sosial. Perilaku yang baik adalah semata-mata melakukan kewajiban sendiri, menhormati otoritas, aturan yang tetap, dan penjagaan tata tertib sosial yang ada. Semua ini dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dalam dirinya.

c. Tingkat Pascakonvensional, Otonom, atau Berdasarkan Prinsip

Tingkat pascakonvensional adalah aturan-aturan dan ungkapan-ungkapan moral dirumuskan secara jelas berdasarkan nilai-nilai dan prinsip moral yang memiliki keabsahan dan dapat diterapkan, terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip tersebut dan terlepas pula dari identifikasi diri dengan kelompok tersebut.

Tingkat pascakonvensional memiliki dua tahap, yaitu:

Tahap 5: Orientasi kontrak sosial legalitas

Pada tahap ini, individu pada umumnya sangat bernada utilitarian. Artinya perbuatan yang baik cenderung dirumuskan dalam kerangka hak dan ukuran individual umum yang telah diuji secara kritis dan telah disepakati oleh masyarakat. Pada tahap ini terdapat kesadaran yang jelas mengenai relativisme nilai dan pendapat pribadi sesuai dengan relativisme nilai tersebut. Terdapat penekanan atas aturan prosedural untuk mencapai kesepakatan, terlepas dari apa yang telah disepakati secara konstitusional dan demokratis, dan hak adalah masalah nilai dan pendapat pribadi. Hasilnya adalah penekanan pada sudut pandang legal, tetapi dengan penekanan pada kemungkinan untuk mengubah hukum berdasarkan pertimbangan rasional mengenai manfaat sosial. Di luar bidang hukum, persetujuan bebas, dan kontrak merupakan unsur pengikat kewajiban .

Tahap 6: Orientasi prinsip dan etika universal

Pada tahap ini, hak ditentukan oleh suara batin sesuai dengan prinsip-prinsip etis yang dipilih sendiri dan yang mengacu kepada komprehensivitas logis, universalitas, dan konsestensi logis. Prinsip-prinsip ini bersifat abstrak dan etis, bukan merupakan peraturan moral konkret. Pada dasarnya inilah prinsip-prinsip universal keadilan, resiprositas, persamaan hak asasi manusia, serta rasa hormat kepada manusia sebagai pribadi.

Berdasarkan tingkatan dan tahapan perkembangan moral, kohlberg (1995) menerjemahkannya ke dalam motif-motif individu dalam melakukan perbuatan moral. Sesuai dengan harapan perkembangan moral, motif-motif perilaku moral manusia adalah sebagai berikut:

Tahap 1: Perbuatan moral individu dimotivasi oleh penghindaran terhadap hukuman dan suara hati yang pada dasarnya merupakan ketakutan irasional terhadap hukuman.

Tahap 2: perbuatan moral individu dimotivasikan oleh keinginan untuk mendapat ganjaran dan keuntungan. Sangat boleh jadi reaksi rasa bersalah diabaikan dan hukuman dipandang secara pragmatis (membedakan rasa takut, rasa nikmat, atau rasa sakit dari akibat hukuman).

Tahap 3: perbuatan moral individu dimotivasi oleh antisipasi terhadap celaan orang lain, baik yang nyata atau yang dibayangkan secara hipotesis.

Tahap 4: perbuatan moral individu dimotivasi oleh antisipasi terhadap celaan yang mendalam karena kegagalan dalam melaksanakan kewajiban dan rasa bersalah diri atas kerugian yang dilakukan terhadap orang lain.

Tahap 5: perbuatan moral individu dimotivasi oleh keprihatinan terhadap upaya mempertahankan rasa hormat terhadap orang lain dan masyarakat yang didasarkan atas akal budi dan bukan berdasarkan emosi , keprihatinan terhadap rasa hormat bagi diri sendiri (misalnya, untuk menghindari sikap menghakimi diri sendiri sebagai makhluk yang tidak rasional, tidak konsisten, dan tanpa tujuan).

Tahap 6: perbuatan moral individu dimotivasi oleh keprihatinan terhadap sikap mempersalahkan diri karena melanggar prinsip-prinsipnya sendiri. Individu cenderung membedakan rasa hormat dari diri sendiri. Selain itu juga dibedakan antara rasa hormat terhadap diri karena mencapai rasionalitas dan rasa hormat terhadap diri sendiri karena mampu mempertahankan prinsip-prinsip moral.

3. Sikap

Fishbein (1975) mendefenisikan sikap adalah predisposisi emosional yang dipelajari untuk merespon secara konsisten terhadap suatu objek. Sikap merupakan variabel laten yang mendasari, mengarahkan dan mempengaruhi perilaku. Sikap tidak identik dengan respons dalam bentuk perilaku, tidak dapat diamati secara langsung tetapi dapat disimpulkan dari konsistensi perilaku yang dapat diamati. Secara operasional, sikap dapat diekspresikan dalam bentuk kata-kata atau tindakan yang merupakan respons reaksi dari sikapnya terhadap objek, baik berupa orang, peristiwa, atau situasi.

Menurut Chaplin (1981) dalam Dictionary of Psychology menyamakan sikap dengan pendirian. Chaptin menegaskan bahwa sumber dari sikap tersebut bersifat kultural, familiar, dan personal. Artinya, kita cenderung beranggapan bahwa sikap-sikap itu akan berlaku dalam suatu kebudayaan tertentu, selaku tempat individu dibesarkan. Jadi, ada semacam sikap kolektif (collective attitude) yang menjadi stereotipe sikap kelompok budaya masyarakat tertentu. Sebagian besar dari sikap itu berlangsung dari generasi ke generasi di dalam struktur keluarga. Akan tetapi, beberapa darin tingkah laku individu juga berkembang selaku orang dewasa berdasarkan pengalaman individu itu sendiri. Para ahli psikologi sosial bahkan percaya bahwa sumber-sumber penting dari sikap individu adalah propaganda dan sugesti dari penguasa-penguasa, lembaga pendidikan, dan lembaga-lembaga lainnya yang secara sengaja diprogram untuk mempengaruhi sikap dan perilaku individu.

Stephen R. Covey mengemukakan tiga teori determinisme yang diterima secara luas, baik sendiri-sendiri maupun kombinasi, untuk menjelaskan sikap manusia, yaitu:

a. Determinisme genetis (genetic determinism): berpandangan bahwa sikap individu diturunkan oleh sikap kakek-neneknya. Itulah sebabnya, seseorang memiliki sikap dan tabiat seperti sikap dan tabiat nenek moyangnya.

b. Determinisme psikis (psychic determinism): berpandangan bahwa sikap individu merupakan hasil pelakuan, pola asuh, atau pendidikan orang tua yang diberikan kepada anaknya.

c. Determinism lingkungan (environmental determinism): berpandangan bahwa perkembangan sikap seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan individu itu tinggal dan bagaimana lingkungan memperlakukan individu tersebut. Bagaimana atasan/pimpinan memperlakukan kita, bagaimana pasangankita memperlakukan kita, situasi ekonomi, atau kebijakan-kebijakan pemerintah, semuanya membentuk perkembangan sikap individu.

Sikap merupakan salah satu aspek psikologi individu yang sangat penting karena sikap merupakan kecenderungan untuk berperilaku sehingga akan banyak mewarnai perilaku seseorang. Sikap setiap orang berbeda atau bervariasi, baik kualitas maupun jenisnya sehingga perilaku individu menjadi bervariasi. Pentingnya aspek sikap dalam kehidupan individu, mendorong para psikolog untuk mengembangkan teknik dan instrumen untuk mengukur sikap manusia. Beberapa tipe skala sikap telah dikembangkan untuk mengukur sikap individu, kelompok, maupun massa untuk mengukur pendapat umum sebagai dasar penafsiran dan penilaian sikap.

Dari beberapa teknik atau skala sikap yang dapat digunakan, ada dua skala sikap yang utama dan dikenal sangat luas, yaitu:

a. Skala Likert

Dalam skala ini disajikan satu seri pertanyaan-pertanyaan sederhana. Kemudian responden diukur sikapnya untuk menjawab dengan cara memilih salah satu pilihan jawaban yang telah disediakan. Yaitu:

1) Sangat setuju

2) Setuju

3) Ragu-ragu/netral

4) Tidak setuju, dan

5) Sangat tidak setuju.

b. Skala Thurstone

Dalam skala ini terdapat sejumlah pernyataan derajat-derajat kekuatan yang berbeda-beda dan responden/subjek yang bersangkutan dapat menyatakan persetujuan atau penolakan terhadap pernyataan-pernyataan tersebut. Butir-butir pernyataannya dipilih sedemikian rupa sehingga tersusun sepanjang satu skala interval-sama, dari yang sangat menyenangi sampai yang sangat tidak menyenangkan.

B. Hubungan antara Nilai, Moral, dan Sikap

Nilai merupakan dasar pertimbangan bagi individu untuk sesuatu, moral merupakan perilaku yang seharusnya dilakukan atau dihindari, sedangkan sikap merupakan predikposisi atau kecenderungan individu untuk merespon terhadap suatu objek atau sekumpulan objek debagai perwujudan dari sistem nilai dan moral yang ada di dalam dirinya. Sistem nilai mengarahkan pada pembentukan nilai-nilai moral tertentu yang selanjutnya akan menentukan sikap individu sehubungan dengan objek nilai dan moral tersebut. Dengan sistem nilai yan dimiliki individu akan menentukan perilaku mana yang harus dilakukan dan yang harus dihindarkan, ini akan tampak dalam sikap dan perilaku nyata sebagai perwujudan dari sistem nilai dan moral yang mendasarinya.

Bagi Sigmund Freud (Gerald Corey, 1989), yang telah menjelaskan melalui teori psikoanalisisnya, antara nilai, moral, dan sikap adalah satu kesatuan dan tidak dibeda-bedakan. Dalam konsep Sigmund Freud, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari tiga, yaitu:

1. Id atau Das Es

2. Ego atau Das Ich

3. Super Ego atau Da Uber Ich.

Id berisi dorongan naluriah, tidak rasional, tidak logis, tak sadar, amoral, dan bersifat memenuhi dorongan kesenangan yang diarahkan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan dan menghindari kesakitan. Ego merupakan eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan dan mengatur kepribadian individu. Tugs utama Ego adalah mengantar dorongan-dorongan naluriah dengan kenyataan yang ada di dunia sekitar. Superego adalah sumber moral dalam kepribadian. Superego adalah kode moral individu yang tugas utamanya adalah mempertimbangkan apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Superego memprestasikan hal-hal yang ideal bukan hal-hal yang riil, serta mendorong ke arah kesempurnaan bukan ke arah kesenangan.

Dalam konteksnya hubungan antara nilai, moral, dan sikap adalah jika ketiganya sudah menyatu dalam superego dan seseorang yang telah mampu mengembangkan superegonya dengan baik, sikapnya akan cenderung didasarkan atas nilai-nilai luhur dan aturan moral tertentu sehingga akan terwujud dalam perilaku yang bermoral. Ini dapat terjadi karena superego yang sudah berkembang dengan baik dapat mengontrol dorongan-dorongan naluriah dari id yang bertujuan untuk memenuhi kesenangan dan kepuasan. Berkembangnya superego dengan baik, juga akan mendorong berkembang kekuatan ego untuk mengatur dinamika kepribadian antara id dan superego, sehingga perbuatannya selaras dengan kenyataannya di dunia sekelilingnya.

C. Karakteristik Nilai, Moral, dan Sikap Remaja.

Karena masa remaja merupakan masa mencari jati diri, dan berusaha melepaskan diri dari lingkungan orang tua untuk menemukan jati dirinya maka masa remaja menjadi suatu periode penting dalam pembentukan nilai. Salah satu karakteristik remaja yang sangat menonjol berkaitan dengan nilai adalah bahwa remaja sudah sangat diperlukan sebagai pedoman, pegangan, atau petunjuk dalam mencari jalannya sendiri untuk menumbuhkan identitas diri menuju kepribadian yang semakin matang.

Karakteristik yang menonjol dalam perkembangan moral remaja adalah bahwa sesuai dengan tingkat perkembangan kognisi yang mulai mencapai tahapan berfikir operasional formal, yaitu mulai mampu berfikir abstrak dan mampu memecahkan masalah-masalah yang bersifat hipotesis maka pemikiran remaja terhadap suatu permasalahan tidak hanya lagi terikat pada waktu, tempat, dan situasi, tetapi juga pada sumber moral yang menjadi dasar hidup mereka. Perkembangan pemikiran moral remaja dicirikan dengan mulai tumbuh kesadaran akan kewajiban mempertahankan kekuasaan dan pranata yang ada karena dianggap sebagai suatu yang bernilai, walau belum mampu mempertanggujawabkan secara pribadi.

Tingkat perkembangan fisik psikis yang dicapai remaja berpengaruh pada perubahan sikap dan perilakunya. Perubahan sikap yang cukup menyolok dan ditempatkan sebagai salah satu karakter remaja adalah sikap menentang nilai-nilai dasar hidup orang tua atau orang dewasa lainnya. Apabila kalau orang tua dan orang dewasa berusaha memaksakan nilai-nilai yang dianutnya kepada remaja. Sikap menentang pranata adat kebiasaan yang ditunjukkan oleh para remaja merupakan gejala wajar yang terjadi sebagai untuk kemampuan berfikir kritis terhadap segala sesuatu yang dihadapi dalam realitas. Gejala sikap menentang pada remaja hanya bersifat sementara dan akan berubah serta berkembang ke arah moralitas yang lebih matang dan mandiri.

D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap

Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap perkembangan nilai, moral, dan sikap individu mencakup aspek psikologis, sosial, budaya, dan fisik kebendaan, baik yang terdapat dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Kondisi psikologis, pola interaksi, pola kehidupan beragama, berbagai sarana rekreasi yang tersedia dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat akan mempengaruhi perkembangan nilai, moral dan sikap individu yang tumbuh dan berkembang di dalam dirinya.

Remaja yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat yang penuh rasa aman secara psikologis, pola interaksi yang demokratis, pola asuh bina kasih, dan religius dapat diharapkan berkembang menjadi remaja yang memiliki budi luhur, moralitas tinggi, serta sikap dan perilaku terpuji. Sebaliknya insividu ytang tumbuh dan berkembang dengan kondisi psikologis yang penuh dengan konflik, pola interaksi yang tidak jelas, pola asuh yang tidak berimbang dan kurang religius maka harapan agar anak dan remaja tumbuh dan berkembang menjadi individu yang memiliki nilai-nilai luhur, moralitas tinggi, dan sikap perilaku terpuji menjadi diragukan.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:

Ada tiga konsep yang masing-masing mempuyai makna, pengaruh, dan konsekuensi yang besar terhadap perkembangan perilaku individu, termasuk juga perilaku remaja.

1. Nilai

Nilai merupakan sesuatu yang memungkinkan individu atau kelompok sosial membuat keputusan mengenai apa yang dibutuhkan atau sebagai suatu yang ingin dicapai.

2. Moral

Istilah moral berasal dari kata Latin Mores yang artinya tata cara dalam kehidupan, adat istiadat, atau kebiasaan. Maksud moral adalah sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia mana yang baik dan wajar.

3. Sikap

Fishbein (1975) mendefenisikan sikap adalah predisposisi emosional yang dipelajari untuk merespon secara konsisten terhadap suatu objek.

Dalam konteksnya hubungan antara nilai, moral, dan sikap adalah jika ketiganya sudah menyatu dalam superego dan seseorang yang telah mampu mengembangkan superegonya dengan baik, sikapnya akan cenderung didasarkan atas nilai-nilai luhur dan aturan moral tertentu sehingga akan terwujud dalam perilaku yang bermoral.

Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap perkembangan nilai, moral, dan sikap individu mencakup aspek psikologis, sosial, budaya, dan fisik kebendaan, baik yang terdapat dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Suatu sistem sosial yang paling awal beruasaha menumbuhkembangkan sistem nilai, moral, dan sikap kepada anak adalah keluarga. Melalui proses pendidikan, pengasuhan, pendampingan, pemerintah, larangan, hadiah, hukuman, dan intervensi edukatif lainnya, para orang tua menanamkan nilai-nilai luhur, moral, dan sikap yang baik bagi anak-anaknya agar dapat berkembang menjadi generasi penerus yang diharapkan.

B. Saran

Dari hasil makalah yang penulis buat ini, maka masih banyak kekurangannya baik dari sisi isi maupun dari sumber-sumber yang diambil, oleh karena itu untuk kelanjutannya penulis mengharapkan pembaca dapat meningkatkan dan mengembangkan lagi mengenai hal ini.

DAFTAR PUSTAKA

- Ali, Mohammad dan Asrori, Muhammad, 2006, Psikologi Remaja, Jakarta:PT Bumi Aksara.

- Corey, Gerald, 2009, Teori dan Praktek KONSELING DAN PSIKOTERAPI, Bandung: PT Refika Aditama

- Hurlock, Elizabeth B. 1980, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga,

- Panuju, Panut dan Umami, Ida, 1999, Psikologi Remaja, Yogyakarta: PT Tiara Wacana.

- Setyoningtyas, Emila, Kamus Trendy Bahasa Indonesia, Surabaya: Apollo

- http://www.anakciremai.com/2008/07/makalah-psikologi-tentang-moral-dan.htmn

MAKALAH EVALUASI PENDIDIKAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Evaluasi berarti pengumpulan kenyataan secerah sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam diri pribadi siswa. Evaluasi pendidikan adalah kegiatan penilaian yang terjadi dalam kegiatan pendidikan bertujuan melakukan evaluasi dalam proses dalam proses belajar mengajar untuk mendapatkan informasi akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan internasional oleh siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjut.

B. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini akan menjelaskan tentang evaluasi pendidikan SMA.

C. Tujuan

Untuk mengetahui arti maksud dari pada evaluasi.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Evaluasi Pendidikan

Artinya evaluasi pendidikan, sebagaimana kita liat dalam pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa, dan merupakan proses menggambarkan, memperoleh, untuk menilai alternative keputusan.

Selain istilah evaluasi seperti yang tercantum dalam definisi kita dapati pula istilah pengukuran dan penilaian pada umumnya cenderung diartikan sama.

Untuk menentukan penilaian mana jeruk yang manis kita menggunakan “ukuran manis” tetapi menggunakan ukuran tidak mempunyai wujud seperti kayu penggaris yang sudah ditera tetapi diperoleh berdasarkan pengalaman.

Sebenarnya kita juga mengukur, yakni membandingkan jeruk-jeruk yang ada dengan ukuran tertentu setelah kita menilai, menentukan pilihan mana jeruk yang paling memenuhi ukuran itulah yang kita ambil.

Dengan demikian kita mengenal dua macam ukuran, yakni ukuran yang terstandar (meter, kilogram, takaran, dan sebagainya). Ukuran tidak terstandar (depa, jangkal, langkah-langkah dan sebagainya dan ukuran perkiraan berdasarkan hasil pengalaman (jeruk manis adalah yang kuning, besar, halus kulitnya).

Dua langkah kegiatan yang dilalui sebelum mengambil barang untuk kita. Itulah yang disebut mengadakan evaluasi yakni mengukur dan menilai. Kita tidak dapat mengadakan penilai sebelum kita mengadakan pengukuran.

a. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif

b. Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif.

c. Mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah di atas yakni mengukur dan menilai.

Di dalam istilah asingnya, pengukuran adalah measurement, sedang penilaian adalah evaluation. Dari kata evaluation istilah diperoleh kata Indonesia yang berarti menilai.

B. Tujuan Evaluasi Pendidikan

Evaluasi pendidikan adalah kegiatan menilai yang terjadi dalam kegiatan pendidikan. Untuk membatasi masalah maka dalam buku ini hanya akan bicarakan penilaian di sekolah.

Guru ataupun pengelolah pengajaran mengadakan penilaian dengan maksud melihat apakah usaha yang dilakukan melalui pengajaran sudah mencapai tujuan.

Apabila sekolah diumpamakan sebagai tempat mengolah sesuatu dan calon siswa diumpamakan sebagai bahan mentah maka lulusan dari sekolah itu dapat disamakan dengan hasil olahan yang sudah siap digunakan dalam istilah inovasi yang menggunakan teknologi maka tempat pengolahan ini disebut transformasi.

a. Input yaitu bahan mentah yang dimasukkan ke dalam transformasi. Dalam dunia sekolah maka yang dimaksud dengan bahan mentah adalah calon siswa yang baru akan memasuki sekolah sebelum memasuki suatu tingkat (institusi), calon siswa itu dinilai dahulu kemampuannya. Dengan evaluasi itu ingin diketahui apakah kelah ia akan mampu mengikuti pelajaran dan pelaksanaan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.

b. Output yaitu bahan jadi yang dihasilkan oleh transformasi yang dimaksud dalam pembicaraan ini adalah siswa lulusan sekolah yang bersangkutan. Untuk dapat menemukan apakah sesesorang berhak lulus atau tidak perlu diadakan evaluasi.

c. Transformasi yaitu mesin yang bertugas mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi dalam dunia sekolah. Sekolah itulah yang dimaksud dengan transformasi. Sekolah itu sendiri dari beberapa mesin menyebabkan berhasil atau gagalnya sebagai transformasi. Diharapkan yang dalam hal ini siswa lulus sekolah ditentukan oleh beberapa factor sebagai akibat bekerjanya unsur-unsur yang ada unsur-unsur transformasi sekolah tersebut antara lain :

a. Guru dan personal lainnya

b. Bahan pelajaran

c. Metode mengajar dan system evaluasi

d. Sarana penunjang

e. System administrasi

f. Kurang sarana penunjang

g. Sistem administrasi yang kurang tepat

d. Umpan balik (feed back) yang tepat yaitu segala informasi baik yang menyangkut output maupun transformasi. Umpan balik ini diperlukan sekali untuk kurang bermutu atau yang belum memenuhi harapan akan menggugah semua pihak untuk mengambil tindakan yang berhubungan dengan penyebab kurang bermutunya lulusan.

a. Manfaatnya bagi siswa

Dengan diadakannya penilaian maka siswa dapat mengetahui sejauh mana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru, hasil yang diperoleh siswa dari pekerjaan menilai ini ada dua kemungkinan.

1. Memuaskan

Jika siswa memperoleh hasil yang memuaskan, dan hal itu menyenangkan tentu kepuasan itu ingin diperoleh lagi pada kesempatan lain waktu akibatnya, siswa akan mempunyai motivasi besar untuk lebih giat.

2. Tidak memuaskan

Jika siswa tidak puas dengan hasil yang diperoleh, ia akan berusaha agar lain kali keadaan itu tidak terulang lagi. Maka ia lalu belajar giat.

b. Manfaatnya bagi guru

1. Dengan hasil penilaian yang diperoleh guru akan dapat mengetahui siswa-siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya karena sudah berhasil menguasai bahan maupun mengetahui siswa-siswa yang belum berhasil menguasai bahan.

2. Guru akan mengetahui apa materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa-siswa sehingga untuk memberikan pengajaran di waktu datang tidak perlu diadakan perubahan.

c. Manfaat bagi sekolah

1. Apabila guru-guru mengadakan penilaian dan diketahui bagaimana hasil belajar siswa-siswanya dapat diketahui pula kondisi belajar yang diciptakan oleh sekolah sudah sesuai dengan harapan atau belum.

2. Informasi dari guru tentang tepat tidaknya kurikulum untuk sekolah itu dapat merupakan bahan pertimbangan bagi perencanaan sekolah untuk masa-masa yang akan datang.

3. Informasi hasil penilaian yang diperoleh dari tahun ketahun, dapat digunakan sebagai pedoman bagi sekolah, yang dilakukan oleh sekolah sudah memenuhi standar atau belum.

Tujuan utama melakukan evaluasi dalam proses belajar mengajar adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya.

C. Fungsi Evaluasi Pendidikan

Dengan mengetahui manfaat evaluasi ditinjau dari berbagai segi dalam system pendidikan, maka dengan cara lain dapat dikatakan bahwa fungsi evaluasi ada beberapa hal :

1. Evaluasi berfungsi selektif

Dengan cara mengadakan evaluasi guru mempunyai cara mengadakan seleksi terhadap siswanya. Seleksi itu sendiri mempunyai berbagai, antara lain :

a. Untuk memilih siswa yang dapat diterima disekolah tertentu

b. Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya

c. Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa

d. Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah dan sebagainya.

2. Evaluasi berfungsi diagnotik

Apabila alat yang digunakan dalam evaluasi cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa

3. Evaluasi berfungsi sebagai penempatan

Sistem baru yang kini banyak dipopularkan di Negara barat, adalah system belajar sendiri, dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket belajar, baik itu berbentuk modul maupun paket belajar yang lain.

4. Evaluasi belajar berfungsi sebagai pengukuran keberhasilan fungsi keempat dari evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa factor yaitu factor guru, metode mengajar, kurikulum, sarana dan system kurikulum.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Guru harus mengajarkan siswa sesuai kurikulum dan evaluasi pendidikan bagi siswa-siswa yang mendapatkan pendidikan yang lebih memuaskan, agar siswa itu dapat memperoleh nilai yang memuaskan agar mereka lebih giat belajar lagi.

Guru akan mengetahui metode apa yang akan dipakai oleh seorang guru, jika sebagian besar siswa memperoleh angka jelek pada penilaian yang diadakan, mungkin hal ini disebabkan oleh pendekatan atau metode yang kurang tepat apabila demikian halnya maka guru harus mawas diri dan mencoba mencari metode lain dalam mengajar.

Jika siswa tidak puas dengan hasil yang diperoleh ia akan berusaha agar lain kali keadaan itu tidak terulang lagi. Jika memperoleh hasil yang memuaskan, dan hal itu menyenangkan tentu kepuasan itu ingin diperolehnya lagi pada kesempatan lain waktu.

B. Saran

Agar guru menggunakan metode mengajar yang lebih tepat agar siswa mudah memahami dan mengerti.

DAFTAR PUSTAKA

http://sarkomkar.blogspot.com/2009/12/komponen-evaluasi-pendidikan-makalah.html

http://www.aster.s5.com/evaulasi.html

Sabtu, 19 November 2011

DO'A

Bila Aku Jatuh Cinta


Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang

Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

Amin !

CERITA RAKYAT BUTON

Wandiu-ndiu

Piamoyitu yi sangu kampo yi biwina tawo yi Wolio.Mboremo samia yayaro temanga ana-ananamo mayidi-yidina.Apelo to dhadhiakana saeo-saeo,kadhangiamo topasuru oinana akarajaa samia-miana,karajana kumpulu kau,kasimpo asoa atawa pobolosiaka te giu mosaganana to faraluna saeo-saeo.Momini mboyitu,sadhia to kinanadena saeo-saeo amarasaimpuu sstopokawa apesua padhangia ikane to ikandeaka.Kadhangia yincia siy podhompuu tangiakana anana kaepuna atangi saeo-saeo wakutuna akande ronamo yinda te ikane.

Piamo yitu,okaepuna tomasiaka mpuu oinana te manga oakana atangi,yinda teunto roonamo pelu ea kande ikane.Sadhia mpuu akana ruamiana,te inana sadhia bujua sabhara giu.Sabhara giu usahana inda membali apaunto tangina,mala soahanda atangi.Roonamao andina sadhia atangi torosu,te inana amendeumpuu arango tangina anana,kasimpo inana apeloakamea i emanina anana,asapo apeloakea karona oikane itawo.

Sakawana yi bhiwina tawo oinana lausaka apongano itawo,bhea ose oikane modhangiana yi pasi,sampe apoolia.Sapokawakana piamba ikane,oinana ambulimo ibhanua pekangkilomea ikanena kahimpo anasu,samasasana akandemo po bhawa-bhawa.Karajana apelo ikane samia-miana,amembalimo karajaana oinana saeo-saeo to anana imasiakana.

Saangu waktu,oinana yieantagi umbana ea pambuli ikane ipoolina indamo ambuli.Padha incia yitu kaepuna kemba mea manga akana asapoaka itawo antanta oinana.

Inda mangenge aumbamo inana pokawa teemanga anana kaasimpo adawua piamba ikanekasimpomo kaepuna aemani apasusua.Momini oinana kalondo-londo itawo bha pene i yati.Sapolandana i yati,talu-talu miaya anana,atokidha akamata inana abhalimo.

Obhalina tomataumpuu minaka yi aena sakawana itoputuna,akoonamo te-apobhangumo ikane.Sakamatana oinana antagimo manga anana talumia.Momoni mbomai sadhia inana eapaunto manga anana kasimpomo apasusu anana kaepu,kaasimpo apaumbaea ambuli uka abhawakea ikane to manga anana sapadhana apasusu oanana ka asapo itawo

Saeo,ruaeona,oinana malagamo ambuli akamata manga anana ibhiwina tawo.Momini inana,oanana kaepu sadjia abhaka oinana,teamani asusu.Maka oakana akaka sadhia apaunde incana andina,kasimpomo oakana moporitangana alagu maasi ibhiwina tawo :

Wa inaa Wandiyu-ndiyu

Mayi paasusu andiku

Andiku Lambatambata

Akaku Laturungkoleo

Sapadhana anana alagu-lagu tee harapu mpuu, inda mangenge inana atimbamo minaaka itawo, maka amembalimo satumpo manusia,satumpo ikane. Sakawana ibhawona tawo, oinana inda malingu adhawu mea ikane manga anana momangengemo antantagia.

Saeyo, ruaeo, ande apelu apokawa teinana alaguakapo lagu Wandiyu-ndiyu. Maka samangengena sadhia aumbamo apokawa temanga anana ibhiwina tawo,oanana motutubina karona.Sahandana kabharina akawamo talingana te-indamo amembali apene iyati, roonamo amembalimo sambaa ikane diyu.

TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA

Dahulu kala, di suatu kamping dekat pantai buton,tinggalah seorang janda miskin bersama tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil.Untuk mencari nafkah sehari-hari, dengan terpaksa si ibu harus bekerja seorang diri. Pekerjaan yang dilakukan yakni mengumpulkan kayu bakar, kemudian dijual atau ditukar dengan benda-benda lain untuk keperluan hidup sehari-hari.namun demikian, acapkali kebutuhan pokok untuk makan sehari-hari amat sulit terpenuhi termasuk menyediakan ikan untuk laut. Keadaan yang demikian menyebabkan si bungsu sehari-hari menangis tatkala anak makam karena tanpa ikan.

Suatu hari, si bungsu yang amat dikasihi oleh ibu dan kakaknya ini menagis tanpa henti dan merengek minta dihidangkan ikan. Berkali-kali kedua kakaknya, terlebih si ibu, membujuknya dengan berbagai cara. Upaya yang ditempuh tidak mampu meredakan tangisnya , bahkan justru sebaliknya

, karena si bungsu tetap menangis dan si itu tak tega untuk membiarkan anaknya menangis , lalu si ibu berupaya mewujudkan permintaan anaknya dengan jalan mencari sendiri ikan dilaut.

Saat tiba di tepi pantai, si ibulalu menceburkan diri ke laut, berenang, menyelam dan menyelam lagi untuk mengejkar ikan – ikan di dasar laut hingga berhasil ditangkap. Setelah mendapatkan beberapa ekor ikan,si ibu kembali ke rumah untuk menemui anak-anaknya yang telah menunggunya. Setibanya di rumah ikan tangkapan dibersihkan lalu dimasak untuk selanjutnya disantap bersama. Kegiatanmencari ikan di laut seorang diri telah merupakan tugas sehari-hari si ibu demi si bungsu yang amat dikasihinya.

Suatu waktu, si ibu yang telah dinanti-nantikan kedatangannya untuk membawa pulang ikan-ikan tangkapann tak kunjung tib. Sementara itu si bungsu terus menerus menangis meminta lauk dari ikan dan ingin menyusu. Keesokan harinya si bungsu diajak oleh kedua kakaknya ke tepi pantai untuk menjemput ibu mereka.

Beberapa saat kemudian si ibu datang menghampiri anak-anaknya sambil memberikan beberapa ekor ikan. Kla itu si bungsu merengek minta di susui, sehingga si ibu yang sebagian tubuhnya masih terendam air harus naik ke darat, ketiga anaknya terperenjat menyaksikan tubuh ibu mereka yang telah berubah.

Perubahan itu tampak mulai dari kaki hingga lutut, yang telah bersisik dan telah membentuk ekor ikan. Melihat ibu mereka demikian, si ibu tetap menghibur ketiga anaknya dan menyusui si bungsu sambil menjanjikan akan kembali lagi membawakan ikan pada anak-anaknya. Usai menyusui si bungsu, lalu pamit pada anak-anaknya untuk kembali ke laut.hari – hari berikutnya, si ibu mulai jarang datang menghampiri anak-anaknya ditepi pantai. Karena si ibu tak muncul-muncul juga, sementara si bungsu tetap menanyakan ibu mereka, juga minta disusui, maka si anak tengah berusaha menghibur si bungsu dan si sulung sambil berdendang syahdu di tepi pantai :

Wa inaa wandiyu-diyu

Mayi paasusu andiku

Andiku Lambatatambata

Akaku Waturungkoleo

Artinya :

Wahai ibu wahai si duyung-duyung

Kemarilah susui adikku

Adikku Lambatatambata

Kakakku Waturungkoleo

Beberapa saat usai mendendangkan syair lagu dengan penuh perasaan dan harapan, lalu dengan penuh perasaan dan harapan, lalu muncullah si ibu dari dalam laut dengan wujud separuh manusia dan separuh ikan. Ketika muncul ke permukaan air, si ibu tidak lupa memberikan beberapa ekor ikan kepada anak-anaknya yang telah lama merindukannya.

Hari demi hari, bila ingin bertemu ibu mereka, dendangkan lagu Wandiyu-diyu lalu dilagukan. Akan tetapi bersamaan dengan perjalanan waktu, kian hari di setiap kemunculannya menemuianak-anaknya di tepi pantai, sisik-sisik yang menutupi tubuhnya semakin meluas hingga menutupi telinganya. Akibatnya sejak itu si ibu tak dapat mendengarkan dendang syahdu suara anak-anaknya dan tak mampu lagi mengijakkan kakinya ke darat kembali. Karena telah berubah menjadi seekor ikan duyung.